Terngepop

Tampilkan postingan dengan label Kulineran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulineran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Oktober 2010

[Kuliner Bangka] Mr. Asui, The Most Extremelicious Seafood.

Siang itu sebenarnya tujuan kami adalah ke salah satu bank BUMN menemui sahabat Ibu untuk menyelesaikan suatu urusan. Dalam perjalanan kami melewati suatu daerah yang bernama Kampung Bintang dan saat melewati kampung tersebut kami melihat sebuah papan nama restoran dengan judul utama "Mr. Asui" yang ditulis dengan huruf merah. Tiba-tiba saja Om yang bertindak sebagai sopir kami nyeletuk "Tu lho restoran Mr. Asui, seafoodnya mantaaa...ppp!".

Tanteku yang duduk di belakang menimpali, "Iya, aku pernah nonton di TV Pak Bondan makan disitu. Keliatannya enak."


Aku menoleh ke arah Ibuku yang duduk di kursi tengah, sambil nyengir-nyengir. Nampaknya beliau sudah paham maksudku, kontan saja beliau mau menjawab "Mau nyoba makan di situ?".

Jawabanku sudah pasti, "Boleh... Boleh... Hehehe..."

"Ya, ntar abis dari bank & Toko Kartini ya", sahut beliau. "OK, siii...ppp!", jawabku.

Sekitar satu jam kemudian setelah menyelesaikan urusan di bank & Toko Kartini mobil pun diputar balik ke restoran Mr. Asui. Begitu turun dari mobil aku nyeletuk "Lho restorannya tutup ya?", karena memang begitu kelihatannya. Yang terlihat hanyalah sebuah bangunan berwarna krem dengan dua buah pintu dimana salah satu pintu tersebut tertutup oleh rolling door warna coklat sementara pintu yang satunya lagi yang lebih lebar rolling doornya hanya menutup seperempat bagian. "Bukan dari situ masuk restonya. Masuk ke gang itu ntar dibelakang ada ruang makannya." jawab Omku. Kami pun masuk ke gang itu dan benar saja di belakang bangunan tadi ada ruang makan yang luas sementara di samping ruang makan itu ada dapur yang (tampaknya) mengusung konsep open kitchen, karena dapurnya memang tidak "disembunyikan" dari mata pengunjung seperti restoran kebanyakan.

Tampak luar restoran Mr. Asui yang tidak meyakinkan.

Kami memilih tempat duduk di sudut ruangan dan seorang pelayan langsung menghampiri menyodorkan daftar menu. Daftar menu sederhana, hanya sebuah print out di atas kertas HVS yang dilayout ala kadarnya dan kemudian dilaminating. Menunya dikategorikan berdasarkan jenis makhluk lautnya dan ditambah beberapa sajian dari hewan darat dengan drop down menu variasi masakan dari hewan-hewan tersebut seperti bakar, goreng mentega, saus padang, dll. Namun daftar menu ini tidak menyertakan daftar harga dari sajian-sajian tersebut, yang nantinya akan menjadi kejutan tersendiri bagi kami. :)

Sekitar 10 menit setelah menyerahkan kertas order ke tangan pelayan, menu pertama pun dihantarkan ke meja kami. Yang meluncur pertama adalah kepiting saus tiram, kepiting dengan ukuran cingkong yang jumbo ini jelas sangat menjawil nafsu makanku. Berhubung kalau dimakan duluan nanti malah habis sebelum kawan-kawan si kepiting datang, akhirnya nafsu memangsa dipuaskan dulu dengan menyeruput saus tiramnya. Saus yang berwarna hitam kecoklatan dengan sedikit semburat merah ini meluncur menyerang lidah. Rasa saus tiram yang sudah ngeblend dengan kaldu daging kepiting benar-benar makjreng. Kekentalannya benar-benar pas tidak terlalu kental (biasanya karena kebanyakan tepung kanji atau maizena), tidak juga terlalu encer seperti di warung-warung seafood kaki lima kebanyakan dimana peran saus tiram dikalahkan oleh air supaya terlihat banyak. Dijual terpisah pun menurutku saus tersebut pun bisa laku, saus tersebut cocok sekali untuk dijadikan campuran nasi goreng. Itu baru sausnya saja lho, setelah dicicipi ternyata daging kepitingnya juga tidak kalah makjreng dengan sausnya. Dagingnya terasa manis, siram dikit pake sausnya dan rasanya pun menjadi makjreng kuadrat. Sayangnya cingkong yang sedari tadi kuincar sudah "dihajar" Om duluan.

Kepiting Saus Tiram, Cumi Goreng Mentega & Ca Tauge Ikan Asin

Kloter kedua datanglah duet maut makanan yang digoreng, ca tauge ikan asin didampingi dengan cumi goreng mentega. Sekilas ca tauge ikan asin tersebut tampak seperti ca tauge ikan asin kebanyakan, namun aku tetap saja penasaran untuk mencicipinya. Kuambil beberapa sendok ca tauge tersebut dan kusandingkan dengan nasi putih yang sudah disiapkan dari tadi. Suapan pertama, rasanya tidak beda jauh dengan ca tauge ikan asin di sebuah resto seafood di kota tempat tinggalku, Semarang. Taugenya tidak ditumis terlalu lama, terbukti dari tekstur si tauge yang masih renyah, sementara itu di belakangnya menyusul semburat rasa saus tiram sebagai bumbu khas dari hidangan yang mengusung citarasa seafood. Suapan kedua, surprise, di sela-sela tauge ternyata tersembunyi potongan ikan asin. Bukan ikan asin yang berupa teri seperti pada kebanyakan sajian ini, tapi ikan asin dari ikan tengiri yang merupakan produk lokal khas pulau Bangka. Ikan asin favoritku sejak aku masih kecil. Tingkat keasinannya yang melebihi asinnya ikan asin teri memberikan kejutan yang maktratap pada lidah, kejutan yang menonjok. Sedikit kunyah-kunyah and then it blends perfectly with ca tauge and rice.

Berikutnya giliran mencicipi sang pasangan duet ca tauge ikan asin, yaitu si cumi goreng mentega. Porsinya tidak terlalu banyak, namun yang agak tidak biasa adalah si cumi disajikan dengan timun yang di-slice kasar. Tanganku pun langsung mencomot potongan tentakel cephalopoda itu dan segera saja meluncur ke mulut. Sajian yang secara visual nampaknya akan berasa hambar tersebut, karena tidak ada perubahan warna yang berarti dari si cumi meskipun sudah dimasak dengan mentega, ternyata menyimpan kejutan tersendiri. Rasa asin bercampur gurih dari menteganya benar-benar "ada", tajam menyebar memenuhi sang indera pengecap, tidak seperti di rata-rata warung seafood dimana mentega hanya digunakan sebagai syarat untuk memenuhi kesesuaian dengan judul masakannnya. Akhirnya aku paham ternyata si timun disiapkan untuk mengurangi rasa gurih asin yang tajam menyeruak tersebut. Padukan pasangan duet maut tersebut ke dalam sepiring nasi putih dan tambahkan sambal yang agak encer khas resto ini yang tersohor dengan citarasa paduan pedas dari cabai dan asam dari jeruk konci, maka anda akan dapatkan sebuah sajian seafood four thumbs up.

Dan sajian kelompok terakhir yang dihidangkan adalah seafood serba ikan, yaitu tengiri bakar bumbu dan sajian berbahan ikan jebung. Untuk sajian dari ikan jebung tersebut aku sendiri kurang jelas mengetahui dimasak apa ikan tersebut. Namun dari noda gosong yang ada pada kulit ikan, nampaknya sajian tersebut diolah dengan cara dipanggang. Terlepas dari aku yang memang agak pilih-pilih soal makan ikan, wujud ikan yang sangar tersebut -mirip seperti ikan gigi tonggos yang kupancing saat di Pulau Tidung- membuatku tidak berselera untuk memangsanya.

Pose bersama ikan jebung dengan kepiting saus tiram

Berbeda dengan si ikan jebung, ikan tengiri bakar bumbu justru sangat menggugah selera. Sajian dari ikan yang memang banyak berhabitat di perairan sekitar pulau Bangka ini tampil dengan porsi besar. Kami mendapat kira-kira sepertiga bagian dari ikan tersebut, dugaanku ikan tersebut panjang keseluruhannya sekitar satu meter. Daging ikan yang montok tersebut kemudian dibelah menjadi dua dan dibakar dengan bumbu-bumbu yang aku sendiri kurang jelas mengetahui apa saja dan seberapa banyak komposisinya. Namun yang pasti selain bumbu-bumbu dapur yang umum (bawang merah, bawang putih, garam, dll.) ditambahkan juga kunyit, terlihat dari warna sajian ini yang kuning nyeter bahkan bisa dikatakan condong ke oranye. Bahan-bahan tadi kemudian dihaluskan dan tidak lupa ditumis terlebih dahulu sebelum dijadikan olesan supaya rasanya lebih mantab. Bumbu halus tadi kemudian dioleskan tebal-tebal ke daging si tengiri dan dibakar. Dan diakhir proses pembakaran sepertinya ditambahkan perasan jeruk konci, terlihat dari biji jeruk yang menyembul di sela-sela bumbu. Soal rasa tidak usah ditanya lagi, benar-benar four thumbs up. Susah untuk dideskripsikan dengan kata-kata, silakan cicipi sendiri untuk merasakan betapa makjrengnya tengiri bakar bumbu tersebut.

Tengiri bakar bumbu.

Setelah semua menu tampil dan proses memangsa selesai, waktunya untuk urusan bayar membayar. Untuk semua menu tersebut, nasi & minuman untuk 6 orang serta lalapan plus sebungkus ayam goreng khas resto ini tersajilah secarik bill senilai Rp 490.000. Suatu angka yang cukup fantastis bagiku untuk suatu sajian seafood porsi 6 orang, meskipun begitu aku mengakui itu adalah sebuah harga yang worthed bagi suatu sajian seafood yang benar-benar extremelicious, suatu sajian seafood dengan tingkat kelezatan yang belum pernah kujumpai seumur hidup. Yang jelas, saat berkunjung ke pulau Bangka lagi -entah berapa tahun lagi- akan kupastikan bahwa restoran Mr. Asui akan masuk ke daftar kunjungan.

Bagi yang penasaran mau menjajal kelezatan seafood racikan Mr. Asui ini alamatnya.
Seafood Restaurant Mr. Asui.
Jl. Kampung Bintang Dalam no 93/12
Pangkalpinang, Bangka-Belitung.
Telepon 0717-423772.

Kamis, 03 Desember 2009

[Kuliner Semarangan] Si Bohai, Martabak Manis Thien Thien Lay

Semarang sebagai kota yang ditinggali oleh berbagai macam etnis seperti Jawa, Tionghoa, Arab, India, dan lain-lain sudah tentu memiliki berbagai macam budaya dan tak pelak lagi juga memiliki beraneka ragam kuliner. Kali ini saya akan membahas salah satu kuliner yang konon pertama kali diperkenalkan oleh etnis Tionghoa. Ya, etnis yang satu ini memang terkenal dengan kuliner-kulinernya yang unik dengan cita rasa yang mudah diterima oleh sebagian besar lidah Bangsa Indonesia. Nah kuliner yang akan saya bahas adalah martabak manis. Selamat menikmati.

Penganan berbentuk bundar yang satu ini punya banyak nama, ada yang menyebutnya dengan kue bandung, kue terang bulan, martabak manis, dan masih banyak lagi nama alias lainnya. Saya sendiri dari kecil mengenalnya sebagai martabak manis. Hampir di setiap kota baik besar maupun kecil pasti ada yang menjual penganan yang satu ini dan diantara sekian banyak penjual martabak manis di suatu kota pasti ada satu yang terbaik, best of the best. Kalau di Bogor ada Martabak Air Mancur, di Bandung ada Martabak Jepang, nah kalau di Semarang sang Kota Atlas yang pantas menyandang gelar best of the best martabak manis menurut saya adalah Martabak Thien Thien Lay.

AWAL PERKENALAN
Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2 menjelang kelas 3, sekitar tahun '94 - '95an. Salah seorang Paman dari pihak Ibu berkunjung ke Semarang, tujuannya apalagi kalau bukan disuruh Kakek untuk menjenguk putri-putri dan cucu-cucunya. Kali ini tidak seperti biasanya, paman saya ini sekalian mencari kawan lamanya di Pangkalpinang yang konon telah lama hijrah ke Semarang.

Diantar oleh saya dan ayah saya (sekarang sudah almarhum) kami bertiga mencari kawan lama Paman tersebut. Mulanya kami mencari di daerah Pudak Payung (daerah dekat perbatasan kota Semarang dengan kota Ungaran) setelah sampai di lokasi ternyata target sudah pindah rumah dan dari informasi yang didapat, kawan lama Paman saya tersebut berjualan martabak di jalan Gadjahmada. Tanpa membuang waktu kami pun langsung meluncur ke TKP.

Jalan Gadjahmada kala itu memang terkenal sebagai jalan dengan deretan pedagang kaki lima yang banyak di kota Semarang selain jalan Mataram. Uniknya lagi apabila di jalan Mataram sebagian besar pedagangnya berjualan loenpia, maka di jalan Gadjahmada ini mayoritas berjualan martabak manis.

Tidak seberapa jauh ke arah utara dari lapangan Pancasila (lebih dikenal dengan nama Simpang Lima) tampak di kiri kanan jalan sudah berjejer gerobak penjual martabak. Perlahan mobil yang kami tumpangi menyusuri jalan tersebut, sambil tengok kiri kanan Paman saya mencoba mengenali kalau-kalau salah satu pedagang martabak tersebut adalah kawan lama yang dicarinya. Namun sampai dengan jembatan Kampung Kali yang menjadi batas jajaran gerobak para pedagang martabak itu tetap saja sang kawan lama tidak ditemukan.

Mobil terus bergerak menyusuri jalan Gadjahmada hingga beberapa ratus meter dari jembatan Kampung Kali di depan gedung sebuah bank swasta kami melihat sebuah gerobak penjual martabak. Gerobak penjual martabak ini menyendiri jauh dari yang lain dan di papan namanya tertulis (kalau saya tidak salah ingat) "Kue Bangka, Thien Thien Lay" nama yang sangat Chinesse sekali. Mobil pun menepi mendekati gerobak tersebut dan ternyata tidak salah lagi itulah sang kawan lama yang dicari-cari.

Sekadar tambahan pengetahuan, sebagian besar pedagang martabak yang mampu membesarkan martabaknya menjadi best of the best adalah keturunan Cina dan uniknya lagi kebanyakan dari mereka berasal dari Bangka. Sebagai contoh adalah Bapak Kiki Sanjaya pemilik Martabak Air Mancur di Bogor juga adalah seorang puta Bangka keturunan Cina, sehingga tidak heran martabak manis selain disebut dengan kue Bandung dan terang bulan disebut juga dengan nama Kue Bangka.

MENGENAL THIEN THIEN LAY LEBIH DALAM
Thien Thien Lay, sampai sekarang pun saya belum tahu apa arti nama itu. Dan setiap kali hendak menanyakan arti kepada sang empunya selalu saja terlupa. Tapi apalah artinya sebuah nama, yang penting adalah karyanya. Meskipun begitu suatu saat nanti insyaallah akan saya tanyakan artinya, tentu saja kalau tidak terlupa. :)

Dinahkodai oleh Om Lim (itulah namanya menurut Ibu saya, sedangkan saya sendiri biasa memanggilnya dengan "Om" saja) sang kawan lama Paman saya tadi dengan dibantu oleh dua orang putranya, Thien Thien Lay telah bertahan hampir dua dekade (atau malah lebih ya). Konon Thien Thien Lay pada awalnya menggelar dagangannya di daerah tempat deretan pedagang kaki lima yang kami lewati sebelumnya, tapi karena didera persaingan dagang yang kurang sehat Om Lim memilih untuk hijrah ke depan gedung bank swasta tersebut.

Setelah pindah tempat pun nampaknya gangguan dalam berdagang masih saja setia menggelayuti Thien Thien Lay. Beberapa tahun menetap di depan gedung bank swasta tersebut, Thien Thien Lay dipaksa pindah oleh petugas kamtib. Thien Thien Lay pun berpindah-pindah tempat usaha hingga akhirnya sekarang menetap di sebelah utara Ruko Gadjahmada Building. Tepatnya di
Jl. Moch Suyudi.

Untuk mencapai Jl. Moch Suyudi sangat mudah, dari Simpang Lima menuju ke jalan Gadjahmada melewati perempatan Kampung Kali terus ke utara lagi. Terus jalan sampai Anda menemukan lampu merah perempatan yang agak aneh, bentuknya lebih mirip dua pertigaan dengan jarak yang berdekatan, pertigaan pertama dengan belokan ke timur & pertigaan kedua dengan belokan ke barat. Setelah melewati lampu merah di kiri jalan ada ruka Gadjahmada Building dan di kanan jalan sedikit di depan anda ada Hotel Telomoyo. Setelah Ruko Gadjahmada Building ada jalan ke kiri, berbeloklah di jalan tersebut kemudian maju beberapa meter dan tengoklah di kanan jalan. Nah disitulah Thien Thien Lay sekarang menggelar dagangannya.


Dari berjualan martabak ini Om Lim telah berhasil mengentaskan putra putrinya dari bangku kuliah dan memiliki sebuah kendaraan roda empat. Hasil yang diperolehnya itu merupakan sebuah bukti bahwa racikan resep martabak manisnya benar-benar dahsyat, sampai-sampai kedua putranya yang sarjana pun memutuskan untuk melanjutkan usaha sang ayah daripada bekerja sebagai pegawai kantoran. Sementara Si Om sekarang lebih banyak duduk-duduk mengawasi kedua putranya & beramah tamah dengan pelanggan setianya, sehingga setiap kali saya menyambangi warungnya sendirian ketika pesanan telah siap dibawa pulang dengan logat Bangka yang masih kental Om Lim selalu berujar "Titip salam ke Mama ya".

Salah seorang putra Om Lim sedang meracik topping martabak manis.

APA YANG ISTIMEWA DARI THIEN THIEN LAY?
Untuk beberapa waktu saya sekeluarga sempat rehat jajan martabak manis di Thien Thien Lay dan setelah rehat jajan beberapa waktu tersebut ternyata sekarang Om Lim sudah menambah jenis dagangannya. Dari yang dulunya cuma Martabak manis dengan varian biasa, keju, hitam manis, wijen, dan spesial serta berbagai macam pukis kini ada juga martabak manis kismis dengan berbagai variannya. Nah, bagi Anda yang suka ngemil kulit
pinggiran martabak manis yang renyah kriuk kriuk kini anda pun bisa membeli kulitnya saja.


Adonan martabak manis biasa dan martabak manis kismis sedang dipanggang.

Yang istimewa dari martabak manis Thien Thien Lay dibanding dengan martabak manis lain adalah kalau pada martabak manis lain setelah lewat sehari biasanya martabak akan menjadi kering & lebih keras dari pada saat baru saja diracik, beda dengan martabak manis racikan Thien Thien Lay. Martabak manis Thien Thien Lay masih terasa lembut & moist itupun sudah saya masukan ke dalam lemari es semalaman. Selain itu racikan toppingnya pun tidak pelit, campuran meses, margarin, kacang sangrai, susu kental manis, dan keju (apabila Anda membeli yang keju tentunya) yang di-mix saat martabak masih kebul kebul fresh for
m the pan nge-blend menghasilkan komposisi rasa yang ciamik. Dari segi kuantitas toppingnya pun lebih banyak dibanding martabak manis racikan pedagang lainnya namun tetap pas, tidak berlebihan. Body si martabak manis yang bohai binti bahenol ini memang diatas rata-rata, sehingga si martabak manis harus dikemas ke dalam dua buah kotak. Wajar saja jika dibanderol dengan harga premium, yang termurah, martabak manis polos harus ditebus seharga Rp 26.000 per loyang, pukis dihargai Rp 2.000 per biji dan bagi Anda yang menggemari kulit pinggiran martabak yang renyah bisa membawanya pulang dengan harga Rp 12.000 per bungkus.


Daftar harga yang belum berubah sejak 2008.

Nah kalau kebanyakan makan martabak manis biasanya akan terasa eneg, apalagi martabak manisnya punya topping yang tebal. Di Thien Thien Lay ini ada martabak m
anis yang tidak terlalu eneg untuk dimakan dalam porsi berlebih, kecuali Anda sudah makan hampir tiga loyang. Hehehe... Ini merupakan varian terbaru martabak manis Thien Thien Lay, namanya martabak kismis. Martabak ini juga tersedia dalam mode polos, biasa, keju, hitam manis keju, hitam manis biasa, istimewa & spesial. Cuma saya belum ngeh apa bedanya antara yang spesial & istimewa. Martabak kismis ini sebenarnya adalah martabak biasa yang ditaburi kismis sesaat setelah adonan dituang ke loyang, kemudian setelah matang diberi topping seperti biasa. Nah kismis inilah yang memberi efek mengurangi rasa eneg.


Ini dia si martabak kismis yang sedang diberi topping.

Bagaimana? Sudah ngiler kah Anda? Daripada berlama-lama ngiler dan penasaran mendingan buruan sambangi deh Thien Thien Lay yang menggelar dagangannya dari pukul 5 sore sampai habis (biasanya sekitar pukul 10 malam). Oh iya Thien Thien Lay tidak membuka cabang di tempat lain lho, jadi yang di Jl. Moch Suyudi ini adalah the only one. Selamat menikmati dan saya tidak tanggung bila suatu saat Anda kangen menikmatinya lagi, karena memang motto dari Thien Thien Lay adalah "Sekali dicoba tetap disuka".


Senin, 26 Januari 2009

Pantai Depok, Jalan-jalan Kuliner Menanti Sunset

Jumat sore saat sedang bersantai di kamar kost selepas dari rumah Adi Kulkas, tiba-tiba software SMS Express di kompi berbunyi. Pertanda ada SMS masuk, ternyata ada SMS provokasi dari Mas Ucup. Kira-kira bunyinya begini, "Ben, dah pulang ke Semarang belum? Kalo belum besok ke abis Asar ke Depok yo."

Tadinya agak ragu-ragu mau ikut atau tidak, habisnya hari Sabtu sudah ada planning mau balik ke Semarang. Dah kangen nyamannya tidur di rumah & lezatnya masakan rumah. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, OK deh ikut aja. Lagipula semester depan kan belum tentu bisa ngumpul-ngumpul lagi, karena ada yang berangkat KKN ada juga yang masih mau ngulang beberapa mata kuliah lagi seperti aku.

Keesokan harinya, setelah semalaman kurang tidur karena sibuk membantai virus Win32 Sality yang bercokol di kompi, aku pun mulai sibuk mempersiapkan perlengkapan yang hendak dibawa. Yang paling penting adalah camdig Nikon Coolpix S10 pinjaman dari Tante. (^_^)v Kali ini jangan sampai kehabisan baterai lagi pas lagi asyik-asyiknya foto-foto. Sementara tu eich pi (hayo opo jal?) berkali-kali menyalak menerima kabar dari Mas Ucup tentang provokasinya kepada anak-anak yang lain.

Menjelang jam 3 sore, baterai camdig sudah terisi full and ready to use. Tiba-tiba kembali eich pi berdering. SMS dari Mas Ucup, "Ben, arep ning kostQ jam piro?" aku jawab "Kosek, Mas. Nunggu Asar dhisik." Tak lama setelah selesai ambil air wudhu, YM di kompi yang sedang online pun turut berbunyi.
BUZZ!!
Advent_nita: Oi, arep mangkat jam piro?
Benhart_lee: Bar Asar. Ayo ndang kumpul ning kost'e Mas Ucup.

Setelah selesai sholat Asar langsung aja aku take-off ke rumah Adi Kulkas & kemudian langsung ke kost Mas Ucup. Di kost Mas Ucup ternyata sudah menunggu Berli Pepi yang tampaknya masih teler setelah menyelesaikan proyeknya dengan Pak Ucok. Tampaknya tidak banyak makhluk-makhluk yang terprovokasi oleh Mas Ucup. Dari yang semula direncanakan tampaknya Dhani & Lies tidak jadi ikut, sehingga tinggal lima orang yang berangkat, yaitu aku sendiri, Mas Ucup, Adi Kulkas, Mbakyu Lia, & Berli Pepi.

Dengan alasan distribusi beban (karena banyak makhluk-makhluk kelas berat (^o^)), maka kami berangkat menggunakan tiga buah sepeda motor dengan formasi Mas Ucup - Adi Kulkas, aku - Mbakyu Lia, & Berli Pepi sendirian. Sekitar pukul 4 sore lebih dikit kami pun take-off dari kost Mas Ucup menuju ke Pantai Depok.

Sekitar 1 jam perjalanan kemudian dengan 2 kali berhenti untuk isi bensin & pompa ban, kami pun sampai di Pantai Depok. Sore itu pantai Depok cukup ramai oleh pengunjung, tampaknya ada rombongan wisata dari luar kota juga.

Setelah memarkir kendaraan langsung saja kami menuju ke pasar ikan. Musim ombak tinggi membuat pilihan ikan yang tersedia tidak sevariatif biasanya, yang kadang bahkan menyajikan pilihan ikan hiu & ikan barakuda. Sementara Adi Kulkas, Berli Pepi & Mbakyu Lia sibuk memilih serta menawar ikan, aku sibuk dengan camdig mencari objek-objek yang menarik untuk diabadikan. Sedangkan Mas Ucup sibuk telpon & SMS sana sini, sedang memprovokasi lagi tampaknya. Hehehe... (^_^)

Hasil jepret-jepret "Lamp & Aozora"

Setelah selesai membeli ikan, kami pun menuju warung tempat kami akan mengolah ikan tersebut menjadi santap malam kami. Dalam perjalanan menuju ke warung kami berhenti sejenak di tempat ibu-ibu yang menjual undur-undur laut goreng & membeli sebungkus.

The Undur-undur laut goreng

Pertama kali aku berkenalan dengan makanan yang satu ini adalah saat nongkrong di angkringan Tugu merayakan selesainya ujian Akuntansi Perpajakan bersama anak-anak kelas. Rasanya yang gurih-gurih crispy cukup membuatku ngiler untuk mencicipinya lagi. Undur-undur laut ini nampaknya masih termasuk ke dalam famili udang-udangan, sehingga bagi yang memiliki alergi terhadap udang tidak disarankan untuk ikut-ikutan mencicipinya. Kasian deh loe... (^_^)

Sembari menunggu masakan terhidang & menunggu waktu berbuka puasa (karena ada yang sedang puasa diantara kami), aku pun turun ke pantai untuk jepret-jepret objek yang menarik, sementara teman-teman lainnya menunggu di warung. Hasilnya adalah foto-foto berikut ini.

"Across the afternoon sky"
Tak lama kemudian teman-teman yang tadinya duduk-duduk di warung pun ikut turun ke pantai. Ngapain lagi kalo bukan ikutan foto-foto narsis.

"Enyonx dhewe v(^_^)v"

"Adi kulkas jadi tukang fotonya"
"Katrok-katrok in action"
Bahkan Adi Kulkas & Berli Pepi sempat memperagakan adegan kemesraan sesama jenis ala film Titanic berikut ini. (^_^)v WARNING!!! Jangan dicoba kalau anda masih normal.

Ternyataaa???

OMG!

Tanpa terasa gelap sudah mulai merayap, siang mulai berganti senja. Langit barat pun mulai memancarkan pesona sunsetnya. Tentu saja kesempatan ini tidak bisa disia-siakan, camdig pun unjuk kebolehan hingga terciptalah foto-foto berikut ini.

"Cloudy Sunset at Depok Beach"

"Fisherman boat in Sunset"
Maghrib pun tiba tandanya untuk berbuka puasa, kami pun kembali ke warung untuk santap malam. Tak perlu menunggu lama makanan telah terhidang, kerapu bakar & oseng cumi cabe kecap sudah siap untuk "dihajar". Tak perlu waktu lama bagi kami untuk melenyapkan semua masakan yang terhidang, sampai-sampai gak sempat difoto dulu.

Menunggu makanan turun ke perut kami pun duduk-duduk dahulu di warung sambil bergantian menunaikan ibadah sholat Maghrib. Setelah semua selesai sholat Maghrib tiba-tiba Adi Kulkas ngotot ngajak pulang tanpa mau menceritakan sebabnya secara jelas. What the hell???

Setelah di tengah jalan menjelang Pasar Seni Gabusan barulah dia bercerita. Katanya setelah sholat Maghrib ia mendapat "bisikan" untuk segera menjauh dari situ. Menurutnya di daerah situ ada sesuatu yang sedang punya hajat, pantai Depok yang biasanya masih dipenuhi penjual sampai jam 7 malam sudah sepi penjual sejak pukul 5.30 sore. Menurutnya lagi cuacanya juga aneh, sampai di jembatan yang membentang di sungai besar (nama sungainya lupa) langit sangat cerah, namun begitu melewati sungai tersebut cuacanya hujan deras. Seperti ada yang sengaja menghalau hujan dari sekitar pantai Depok. Percaya gak percaya, terserah anda.

Kamis, 01 Mei 2008

[Kuliner Semarangan] Bebek Gendut, Pemuas Perut

Warung ini sebetulnya sudah lama berdiri, namun baru beberapa waktu yang lalu tercetus keinginan untuk mencoba masakan warung kaki lima ini. Warung tenda di seberang Indomaret ini selalu ramai oleh pengunjung, dan beberapa bulan yang lalu baru saja membuka cabangnya sekitar 200 meter ke arah timur dari warung pertama. Secara logika jika ada warung yang selalu ramai oleh pengunjung & telah membuka cabang, pastinya ada sesuatu yang istimewa di sana.

Dugaan ternyata tidak meleset, ternyata bebek goreng di sini benar-benar gendut alias porsinya di atas rata-rata sesuai dengan nama warungnya "Bebek Gendut". Bebek yang telah diungkep dengan bumbu kuning kemudian digoreng kering dengan kremesan membuat rasa bebek gorengnya benar-benar maknyuuu.....sss tenan. (^_^)d Cobalah ambil lalapannya kemudian colek ke sambalnya, dijamin "trio maut" bebek goreng, lalapan & sambalnya membuat sepiring nasi tidak akan cukup. Sambalnya benar-benar bikin ketagihan. Uenaa....ak tenan. v(^_^)v Karena itu tidak disarankan datang ke warung ini selepas pukul delapan malam, karena bisa jadi Anda hanya akan mendapat "sisa" bebek yang tidak terlalu "gendut".

Ini dia bebek gendutnya

Masih ada lagi kelebihan di warung Bebek Gendut ini, yaitu harganya yang murah. Untuk satu porsi bebek goreng tanpa nasi hanya dibanderol dengan harga Rp 9000 saja. Harga ini kontan saja masih lebih murah dibanding harga bebek goreng di Jogja, kota pelajar yang terkenal dengan harga makanannya yang murah meriah. Di Jogja seporsi bebek goreng dibanderol dengan harga Rp 11.000, lebih mahal dan bahkan porsinya juga lebih kecil. Sebuah kejutan bahwa di kota Semarang yang notabene harga makanannya lebih mahal daripada Jogja masih ada santapan yang lezat & murah meriah.

Lalapannya

Bagi Anda yang tidak suka bebek, warung yang buka dari jam 5 sore hingga jam 10 malam juga menyediakan menu ayam goreng/bakar, ikan gurame goreng/bakar, dll. Namun direkomendasikan cobalah bebek goreng di warung ini, siap tahu persepsi Anda tentang bebek akan berubah. Die die must try deh. (^_^)

Jika Anda berniat mampir ke warung "Bebek Gendut" ini pertama Anda harus mencapai jalan Setiabudi kemudian carilah gerbang masuk Undip atas (Undip Tembalang). Jika Anda dari arah Ada Swalayan Setiabudi teruslah ke arah utara, setelah Anda melewati kawasan Yonif 401 Banteng Raider sebelum mencapai Hotel Plaza anda akan menemui perempatan yang ada traffic lightnya. Di kanan jalan atau arah timur ada gapura besar bercat hijau dengan patung Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda di tengahnya. Masuklah ke gapura besar tersebut dan Anda sudah tiba di Jalan Ngesrep Timur 5, teruslah maju sekitar 200 meter dan di kiri jalan tepat di seberang Indomaret warung "Bebek Gendut" siap menyambut Anda. Masih belum ketemu juga? Kalau begitu hubungi aku saja, karena rumahku tidak jauh dari situ Aku siap meluncur untuk mengantarkan Anda dengan syarat harus ada "sesaji" seporsi bebek goreng. He...he...he... (^_^)v

Kamis, 14 Februari 2008

[Jajan Jogja] Soto Sokaraja Plat R

Hari ini sebetulnya lagi gak pengen sarapan soalnya tadi malam habis makan besar di SS, tapi apa daya perut meronta-ronta minta diisi lagi. Apa boleh buat akhirnya aku keluar cari-cari sarapan, tapi belum ada tujuan mau makan dimana....

Mau makan gado-gado udah sering, warung prasmanan lagi bosen. Tiba-tiba aja aku teringat "promosi" seorang teman tentang soto sokaraja, kebetulan tempatnya juga gak jauh dari kost. Akhirnya aku putusin buat sarapan disitu aja deh.

Terletak di kiri (jika Anda menuju ke utara) Jalan Kaliurang KM 6,2, tepatnya di seberang Apotik Tina Farma. Terpampang di depannya sebuah banner dengan gradasi kuning kehijauan bertuliskan "SOTO SOKARAJA PLAT R, Sedia.....". Warung soto ini terletak satu komplek dengan Warung Nonstop 24 Jam Jogja Grup. Warung soto ini hanya berupa celah antara tembok pagar depan dengan sebuah rumah old style yang tampaknya dahulu adalah sebuah toko. Tempatnya cukup bersih & cukup terlindung dari asap kendaraan yang lalu lalang karena letaknya yang di balik tembok pagar.

Warung Soto Sokaraja Plat R ini menawarkan menu soto ayam, soto daging, soto babat & mendoan. Sedangkan minumannya standar saja seperti warung pada umumnya. Ada satu catatan menarik di warung ini disaat warung-warung lain banyak yang menciutkan ukuran produk-produk tempenya padahal harga juga sudah dinaikkan. Warung ini justru menawarkan mendoan dengan ukuran jumbo, harga naik-naik dikit cincai lah yang penting kualitas & kuantitas tetap terjamin. (^_^) maklum harga kedelai sebagai bahan dasar tempe memang lagi mahal-mahalnya.

Dibanderol dengan harga Rp 2.000 per bijinya, dijamin Anda pasti puas dengan mendoan jumbo tersebut. (^_^)d
Untuk sotonya kebetulan aku lagi pengen nyobain soto babatnya, soto ini dibanderol dengan harga Rp 6.000 per porsi memang lebih mahal dari soto pada umumnya yang cuma Rp 3.000 - Rp 4500 per porsinya. Ditawarkan dengan dua pilihan mau pakai nasi atau lontong, soto ini bercita rasa manis dengan kuah kaldu yang agak berlemak (sangat terasa di lidah & terlihat dari tekstur minyak di permukaannya) dan sebagai campuran dimasukkan juga taoge, kubis plus kerupuk bawang warna-warni. Sambelnya pun ada dua pilihan, mau yang sambel kacang atau sambal cabe. Tidak seperti soto-soto lain yang pernah aku cicipi dimana biasanya aku masih menambahkan kecap atau jeruk nipis, soto ini gak perlu lagi. Singkat kata rasanya udah pas banget sama seleraku. Maknyuuu...sss tenan. (^_^)d