Terngepop

Senin, 04 Juli 2011

[Troubleshoot] Tidak Bisa Menyalakan Wi-Fi pada Toshiba Satellite L510-S432

Suatu ketika saat hendak menyalakan wi-fi laptop saya -dinyalakan dengan kombinasi tombol Fn+F8-, tombol Fn yang ketika dipencet seharusnya menampilkan semacam floating menu -secara default akan muncul di bagian atas monitor- tak mau menampilkan menu tersebut. Menu yang disebut Flash Cards tersebut selain berfungsi untuk menghidupkan koneksi wireless juga berfungsi untuk mengatur kecerahan layar, mengatur output ke LCD, mengatur power scheme, dll. Sialnya laptop saya ,Toshiba Satellite L510-S432 -begitupun dengan beberapa seri sejenis-, tidak memiliki switch di body untuk mengaktifkan koneksi wireless seperti tipe-tipe yang "berkasta" lebih tinggi dari Satellite, misalnya saja Portege.

 Tampilan Flash Cards pada Toshiba Satellite L510-S432 milik saya
 
Untuk fungsi-fungsi lain yang sering saya gunakan masih bisa saya temukan cara lain untuk mengaktifkannya melalui Control Panel, tapi tidak dengan fungsi mengaktifkan koneksi wireless. Penyebab dari masalah ini sampai saat ini belum jelas, tapi dugaan saya mungkin dikarenakan ada update Windows Vista yg tidak kompatibel dengan aplikasi Flash Cards dari Toshiba tersebut. Karena ini terjadi setelah saya meng-update Windows Vista saya melalu fitur Windows Automatic Updates.

Copy program shortcut Restart Flash Cards
dari folder TOSHIBA -> Utilities

Paste ke folder Startup

Masalahnya sebetulnya sederhana saja, Flash Cards tersebut tidak muncul setelah saya menekan tombol Fn karena setelah Windows di-update aplikasi Flash Cards tersebut tidak langsung berjalan saat Windows mulai dijalankan (autostart -red.). Sehingga aplikasi Flash Cards tersebut harus di-restart dengan meng-klik orb Windows (Start) -> All Programs -> TOSHIBA -> Utilities -> Restart Flash Cards. Namun karena merepotkan bila setiap menyalakan Windows harus me-restart si Flash Cards ini akhirnya saya akali saja dengan meng-copy shortcut Restart Flash Card di folder yang sudah saya sebutkan sebelumnya ke dalam folder All Program -> Startup. Dan masalah pun selesai. :)

CATATAN PENTING (UPDATE):
Trik ini berhasil hanya bila di laptop Anda sudah terinstal software TOSHIBA Value Added Package. Bila sistem operasi Windows laptop Anda adalah OEM (Original Equipment Manufacturer) alias sudah diinstal dari pabrik, Anda bisa menemukan master software TOSHIBA Value Added Package pada folder C:\Program Files\TOSHIBA\TOSAPINS\COMPS1 atau pada CD driver yang disediakan oleh produsen.
_________________________________________________________________________________

Testbed platform:
Toshiba Satellite L510-S432
Windows Vista Home Premium with Service Pack 2 OEM (32-bit)
Intel Core 2 Duo T6500 2,1 GHz
RAM 2 GB
ATI Mobility Radeon HD 4500
Western Digital Caviar 320 GB Hard Disk

Senin, 10 Januari 2011

Monumen Keluarga Berencana yang Ada-ada Saja

Pemerintah negeri Zamrud Khatulistiwa ini gemar membangun suatu monumen untuk program-program yang sedang atau pernah dijalankan. Sayangnya desain monumen tersebut sering kali kurang pas dengan tema yang diusung, kalaupun desain sudah klop dengan temanya terkadang eksekusinya menghasilkan suatu monumen yang punya makna tambahan, meleset dari yang dimaksudkan, bahkan terkadang menjadi "lucu", setidaknya bagi saya.

Salah satu program pemerintah yang cukup terkenal adalah Keluarga Berencana atau biasa disingkat menjadi KB. Program pemerintah yang satu ini merupakan suatu anjuran bagi rakyat supaya hanya memiliki dua anak saja demi menekan laju pertambahan penduduk di Indonesia, sehingga dalam satu keluarga terdiri dari satu bapak, satu ibu, dan dua anak, laki-laki atau perempuan sama saja. Sepanjang sejarah plesir saya kesana kemari saya menemukan dua buah monumen berbentuk patung yang didedikasikan untuk program Keluarga Berencana ini. Yang pertama ada di kampung halaman saya sendiri, Semarang, dan satunya lagi berada di kota Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Yang pertama adalah yang berada di Taman Menteri Supeno atau lebih dikenal dengan nama Taman KB di Jalan Menteri Supeno kota Semarang tepat di depan SMA Negeri 1 Semarang. Patung yang didedikasikan untuk program Keluarga Berencana tersebut berada di jantung taman, tepat berada di tengah-tengah kolam air mancur. Meskipun patung ini didedikasikan untuk Program Keluarga Berencana tapi ada yang janggal dengan patung ini. Seperti yang sudah disebutkan di atas Keluarga Berencana itu terdiri satu bapak, satu ibu dan dua anak, namun tidak dengan patung di jantung Taman Menteri Supeno tersebut. Patung di tengah taman Menteri Supeno a.k.a Taman KB tersebut hanya terdiri dari satu ibu dan dua anak. Saya pikir bapaknya sedang jajan di pedagang kaki lima di sekitar taman, tapi dicari-cari pun tak kunjung ditemukan, kembali saat malam menyelimuti kota pun sang bapak tak kunjung pulang. Saya jadi curiga jangan-jangan si bapak inilah yang sering kita kenal dengan Bang Thoyib, yang sampai tiga kali lebaran nggak pernah pulang. Hehehe... Karena absennya sang bapak inilah alih-alih menyebut taman tersebut dengan nama Taman KB atau Taman Menteri Supeno, saya dan teman-teman lebih suka menyebutnya dengan nama Taman Janda. Lha wong cuma satu ibu, dua anak nggak ada bapaknya. :)

Patung Keluarga Berencana di Taman KB, Semarang. Nggak ada bapaknya kan.

Monumen yang kedua terletak di halaman kantor Kecamatan Depok, kota Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya menemukan monumen ini saat saya sedang jogging pagi menyusuri ringroad utara dari perempatan Jalan Kaliurang sampai dengan perempatan Condong Catur (ada juga yang menyebutnya perempatan Gejayan). Monumen berbentuk patung ini tidak memiliki kejanggalan seperti yang ada di Semarang, semuanya komplit, satu bapak, satu ibu beserta dua anak (satu anak perempuan mengenakan toga wisuda dan satunya lagi anak laki-laki berseragam SD). Yang lucu dari patung bercat warna tembaga ini adalah pose keluarga tersebut, kecuali si anak perempuan ketiga anggota keluarga yang lain berpose seperti pemain sepakbola yang sedang membentuk pagar betis. So, alih-alih menyebut patung ini "Tugu KB" sesuai sign yang terdapat di depannya, saya lebih senang menyebutnya sebagai patung "Pagar Betis".


Jangan-jangan tidak jauh dari patung ini ada patung tendangan sudut. :)

Yah, setidaknya sampai saat ini saya belum pernah menemui monumen Keluarga Berencana dengan komposisi keluarga lebih dari dua orang anak apalagi ada dua istri. Kalau itu namanya sudah Keluarga Besar, poligami pula. :D :D :D

Selasa, 19 Oktober 2010

[Kuliner Bangka] Mr. Asui, The Most Extremelicious Seafood.

Siang itu sebenarnya tujuan kami adalah ke salah satu bank BUMN menemui sahabat Ibu untuk menyelesaikan suatu urusan. Dalam perjalanan kami melewati suatu daerah yang bernama Kampung Bintang dan saat melewati kampung tersebut kami melihat sebuah papan nama restoran dengan judul utama "Mr. Asui" yang ditulis dengan huruf merah. Tiba-tiba saja Om yang bertindak sebagai sopir kami nyeletuk "Tu lho restoran Mr. Asui, seafoodnya mantaaa...ppp!".

Tanteku yang duduk di belakang menimpali, "Iya, aku pernah nonton di TV Pak Bondan makan disitu. Keliatannya enak."


Aku menoleh ke arah Ibuku yang duduk di kursi tengah, sambil nyengir-nyengir. Nampaknya beliau sudah paham maksudku, kontan saja beliau mau menjawab "Mau nyoba makan di situ?".

Jawabanku sudah pasti, "Boleh... Boleh... Hehehe..."

"Ya, ntar abis dari bank & Toko Kartini ya", sahut beliau. "OK, siii...ppp!", jawabku.

Sekitar satu jam kemudian setelah menyelesaikan urusan di bank & Toko Kartini mobil pun diputar balik ke restoran Mr. Asui. Begitu turun dari mobil aku nyeletuk "Lho restorannya tutup ya?", karena memang begitu kelihatannya. Yang terlihat hanyalah sebuah bangunan berwarna krem dengan dua buah pintu dimana salah satu pintu tersebut tertutup oleh rolling door warna coklat sementara pintu yang satunya lagi yang lebih lebar rolling doornya hanya menutup seperempat bagian. "Bukan dari situ masuk restonya. Masuk ke gang itu ntar dibelakang ada ruang makannya." jawab Omku. Kami pun masuk ke gang itu dan benar saja di belakang bangunan tadi ada ruang makan yang luas sementara di samping ruang makan itu ada dapur yang (tampaknya) mengusung konsep open kitchen, karena dapurnya memang tidak "disembunyikan" dari mata pengunjung seperti restoran kebanyakan.

Tampak luar restoran Mr. Asui yang tidak meyakinkan.

Kami memilih tempat duduk di sudut ruangan dan seorang pelayan langsung menghampiri menyodorkan daftar menu. Daftar menu sederhana, hanya sebuah print out di atas kertas HVS yang dilayout ala kadarnya dan kemudian dilaminating. Menunya dikategorikan berdasarkan jenis makhluk lautnya dan ditambah beberapa sajian dari hewan darat dengan drop down menu variasi masakan dari hewan-hewan tersebut seperti bakar, goreng mentega, saus padang, dll. Namun daftar menu ini tidak menyertakan daftar harga dari sajian-sajian tersebut, yang nantinya akan menjadi kejutan tersendiri bagi kami. :)

Sekitar 10 menit setelah menyerahkan kertas order ke tangan pelayan, menu pertama pun dihantarkan ke meja kami. Yang meluncur pertama adalah kepiting saus tiram, kepiting dengan ukuran cingkong yang jumbo ini jelas sangat menjawil nafsu makanku. Berhubung kalau dimakan duluan nanti malah habis sebelum kawan-kawan si kepiting datang, akhirnya nafsu memangsa dipuaskan dulu dengan menyeruput saus tiramnya. Saus yang berwarna hitam kecoklatan dengan sedikit semburat merah ini meluncur menyerang lidah. Rasa saus tiram yang sudah ngeblend dengan kaldu daging kepiting benar-benar makjreng. Kekentalannya benar-benar pas tidak terlalu kental (biasanya karena kebanyakan tepung kanji atau maizena), tidak juga terlalu encer seperti di warung-warung seafood kaki lima kebanyakan dimana peran saus tiram dikalahkan oleh air supaya terlihat banyak. Dijual terpisah pun menurutku saus tersebut pun bisa laku, saus tersebut cocok sekali untuk dijadikan campuran nasi goreng. Itu baru sausnya saja lho, setelah dicicipi ternyata daging kepitingnya juga tidak kalah makjreng dengan sausnya. Dagingnya terasa manis, siram dikit pake sausnya dan rasanya pun menjadi makjreng kuadrat. Sayangnya cingkong yang sedari tadi kuincar sudah "dihajar" Om duluan.

Kepiting Saus Tiram, Cumi Goreng Mentega & Ca Tauge Ikan Asin

Kloter kedua datanglah duet maut makanan yang digoreng, ca tauge ikan asin didampingi dengan cumi goreng mentega. Sekilas ca tauge ikan asin tersebut tampak seperti ca tauge ikan asin kebanyakan, namun aku tetap saja penasaran untuk mencicipinya. Kuambil beberapa sendok ca tauge tersebut dan kusandingkan dengan nasi putih yang sudah disiapkan dari tadi. Suapan pertama, rasanya tidak beda jauh dengan ca tauge ikan asin di sebuah resto seafood di kota tempat tinggalku, Semarang. Taugenya tidak ditumis terlalu lama, terbukti dari tekstur si tauge yang masih renyah, sementara itu di belakangnya menyusul semburat rasa saus tiram sebagai bumbu khas dari hidangan yang mengusung citarasa seafood. Suapan kedua, surprise, di sela-sela tauge ternyata tersembunyi potongan ikan asin. Bukan ikan asin yang berupa teri seperti pada kebanyakan sajian ini, tapi ikan asin dari ikan tengiri yang merupakan produk lokal khas pulau Bangka. Ikan asin favoritku sejak aku masih kecil. Tingkat keasinannya yang melebihi asinnya ikan asin teri memberikan kejutan yang maktratap pada lidah, kejutan yang menonjok. Sedikit kunyah-kunyah and then it blends perfectly with ca tauge and rice.

Berikutnya giliran mencicipi sang pasangan duet ca tauge ikan asin, yaitu si cumi goreng mentega. Porsinya tidak terlalu banyak, namun yang agak tidak biasa adalah si cumi disajikan dengan timun yang di-slice kasar. Tanganku pun langsung mencomot potongan tentakel cephalopoda itu dan segera saja meluncur ke mulut. Sajian yang secara visual nampaknya akan berasa hambar tersebut, karena tidak ada perubahan warna yang berarti dari si cumi meskipun sudah dimasak dengan mentega, ternyata menyimpan kejutan tersendiri. Rasa asin bercampur gurih dari menteganya benar-benar "ada", tajam menyebar memenuhi sang indera pengecap, tidak seperti di rata-rata warung seafood dimana mentega hanya digunakan sebagai syarat untuk memenuhi kesesuaian dengan judul masakannnya. Akhirnya aku paham ternyata si timun disiapkan untuk mengurangi rasa gurih asin yang tajam menyeruak tersebut. Padukan pasangan duet maut tersebut ke dalam sepiring nasi putih dan tambahkan sambal yang agak encer khas resto ini yang tersohor dengan citarasa paduan pedas dari cabai dan asam dari jeruk konci, maka anda akan dapatkan sebuah sajian seafood four thumbs up.

Dan sajian kelompok terakhir yang dihidangkan adalah seafood serba ikan, yaitu tengiri bakar bumbu dan sajian berbahan ikan jebung. Untuk sajian dari ikan jebung tersebut aku sendiri kurang jelas mengetahui dimasak apa ikan tersebut. Namun dari noda gosong yang ada pada kulit ikan, nampaknya sajian tersebut diolah dengan cara dipanggang. Terlepas dari aku yang memang agak pilih-pilih soal makan ikan, wujud ikan yang sangar tersebut -mirip seperti ikan gigi tonggos yang kupancing saat di Pulau Tidung- membuatku tidak berselera untuk memangsanya.

Pose bersama ikan jebung dengan kepiting saus tiram

Berbeda dengan si ikan jebung, ikan tengiri bakar bumbu justru sangat menggugah selera. Sajian dari ikan yang memang banyak berhabitat di perairan sekitar pulau Bangka ini tampil dengan porsi besar. Kami mendapat kira-kira sepertiga bagian dari ikan tersebut, dugaanku ikan tersebut panjang keseluruhannya sekitar satu meter. Daging ikan yang montok tersebut kemudian dibelah menjadi dua dan dibakar dengan bumbu-bumbu yang aku sendiri kurang jelas mengetahui apa saja dan seberapa banyak komposisinya. Namun yang pasti selain bumbu-bumbu dapur yang umum (bawang merah, bawang putih, garam, dll.) ditambahkan juga kunyit, terlihat dari warna sajian ini yang kuning nyeter bahkan bisa dikatakan condong ke oranye. Bahan-bahan tadi kemudian dihaluskan dan tidak lupa ditumis terlebih dahulu sebelum dijadikan olesan supaya rasanya lebih mantab. Bumbu halus tadi kemudian dioleskan tebal-tebal ke daging si tengiri dan dibakar. Dan diakhir proses pembakaran sepertinya ditambahkan perasan jeruk konci, terlihat dari biji jeruk yang menyembul di sela-sela bumbu. Soal rasa tidak usah ditanya lagi, benar-benar four thumbs up. Susah untuk dideskripsikan dengan kata-kata, silakan cicipi sendiri untuk merasakan betapa makjrengnya tengiri bakar bumbu tersebut.

Tengiri bakar bumbu.

Setelah semua menu tampil dan proses memangsa selesai, waktunya untuk urusan bayar membayar. Untuk semua menu tersebut, nasi & minuman untuk 6 orang serta lalapan plus sebungkus ayam goreng khas resto ini tersajilah secarik bill senilai Rp 490.000. Suatu angka yang cukup fantastis bagiku untuk suatu sajian seafood porsi 6 orang, meskipun begitu aku mengakui itu adalah sebuah harga yang worthed bagi suatu sajian seafood yang benar-benar extremelicious, suatu sajian seafood dengan tingkat kelezatan yang belum pernah kujumpai seumur hidup. Yang jelas, saat berkunjung ke pulau Bangka lagi -entah berapa tahun lagi- akan kupastikan bahwa restoran Mr. Asui akan masuk ke daftar kunjungan.

Bagi yang penasaran mau menjajal kelezatan seafood racikan Mr. Asui ini alamatnya.
Seafood Restaurant Mr. Asui.
Jl. Kampung Bintang Dalam no 93/12
Pangkalpinang, Bangka-Belitung.
Telepon 0717-423772.

Selasa, 12 Januari 2010

Kapan Tobat???

Beberapa minggu lalu saat sedang bermalam di rumah seorang teman. Teman saya menceritakan sebuah kisah tentang seorang sahabat di kampung halamannya. Cerita ini kembali saya tuturkan bukan untuk menyebarkan keburukan sahabat teman saya tersebut, namun untuk dipetik pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Sebut saja sahabat teman saya tersebut dengan nama Bejo. Alkisah si Bejo ini selepas SMA dikuliahkan oleh ayahnya ke luar kota di Solo. Selama kuliah di Solo, si Bejo ini ternyata lebih banyak mabuk-mabukan daripada kuliah. Perilaku tercela si Bejo ini terendus oleh sang ayah di kampung halaman yang notabene adalah sang penyandang dana. Akibatnya ayah dan anak ini sempat tidak saling berbicara satu sama lain untuk beberapa waktu.

Seiring dengan berlalunya waktu, konon si Bejo insyaf. Dan hati sang ayah pun mulai melunak dan beliau ingin sang anak memperoleh masa depannya kembali. Kemudian sang ayah kembali membiayai kuliah sang anak, namun kali ini sang anak dipindahkan ke kota lain, Semarang. Mungkin supaya tehindar dari pengaruh buruk teman-temannya di Solo. Setelah dipindahkan kuliah ke Semarang ternyata kelakuan tercela si Bejo kambuh lagi. Dengan trik yang lihai si Bejo berhasil menyembunyikan kelakuan tercelanya tersebut dari sang ayah. Hingga pada suatu hari, seperti biasanya karena sudah kehabisan uang saku si Bejo menghubungi ayahnya di kampung halaman untuk minta kiriman uang saku. Begitu dihubungi oleh si Bejo sang ayah pun langsung menuju ke ATM terdekat menggunakan becak. Di tengah perjalanan sang ayah melihat peristiwa kecelakaan terjadi di depan mata kepalanya sendiri yang membuatnya menerima kejutan yang teramat sangat. Sang ayah yang mempunyai masalah dengan jantungnya seketika itu terkena serangan jantung. Malang bagi sang ayah, nyawanya tidak terselamatkan.


Tanpa memberitahu kejadian yang sebenarnya kakak si Bejo, memintanya untuk pulang ke kampung halaman saat itu juga. Sempat terjadi debat antara si Bejo dengan sang kakak tentang mengapa ia mendadak disuruh pulang, namun dengan sedikit paksaan akhirnya si Bejo menyerah. Masih belum mengetahui apa alasan sebenarnya ia diminta pulang secara mendadak, ia pun berangkat ke kampung halaman dengan sang pacar. Sesampainya di kampung halaman ia tidak langsung menuju ke rumah namun malah mampir dulu di warung membeli rokok. Saat sedang membeli rokok, lewatlah seorang tetangga dekat rumahnya yang langsung saja menegurnya.

"Jo, kamu ini koq malah nggak langsung ke rumah tho? Eeee... malah nongkrong disini."

Si Bejo keheranan, "Memangnya ada apa tho, Mas?"

"Bapakmu tu meninggal, Jo. Masa kamu nggak tau?" Jawab si tetangga.

Mendengar kabar yang mengejutkan itu Si Bejo langsung tunggang langgang berlari menuju ke rumahnya. Dan betapa menyesalnya ia setelah mendengar kronologis meninggalnya sang ayah. Penyesalannya yang sangat mendalam mengantarkannya pada taubat yang setaubat-taubatnya, ia insaf yang sebenar-benarnya dari semua perbuatan tercela yang selama ini dilakukannya. Konon ia yang tadinya tidak niat kuliah, berubah menjadi mahasiswa yang rajin sepeninggal sang ayah dan berhasil menyelesaikan kuliahnya.

APA HIKMAHNYA?
Yang namanya perbuatan tercela, perbuatan dosa, dan semacamnya itu seperti penyakit. Pada awalnya selalu membungkus dirinya dengan kemasan-kemasan yang menarik dicampur dengan bumbu-bumbu kesenangan dan kenikmatan sesaat, agar menarik orang untuk terjerumus ke dalamnya. Sebut saja penyakit asam urat, penyakit ini justru dipicu karena kegemaran menyantap makanan yang enak-enak, misalnya saja seafood, daging, dll. Jadi tidak heran jika banyak orang dengan senang hati menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan dosa dan tercela.

Seperti juga halnya penyakit, mencegah adalah solusi terbaik. Namun apabila sudah terlanjur "sakit" bagaimana? Nah Ini dia inti hikmahnya. Dengan mengasumsikan bahwa tidak ada masalah finansial untuk memperoleh pengobatan, maka masalahnya hanya terletak pada keinginan anda untuk sembuh. Disini Anda bisa memilih untuk segera mengobati penyakit Anda selama penyakit tersebut masih ringan sehingga cukup dengan beristirahat yang cukup saja penyakit sudah sembuh atau menunggu sampai penyakit anda semakin kronis sehingga diperlukan tindakan pengobatan yang ekstrim seperti kemoterapi pada penyakit kanker.

Pada kasus si Bejo di atas saya sangat yakin bahwa Allah SWT pasti pernah memberikan peringatan-peringatan kecil untuk segera insyaf, yang kalau kita analogikan dengan proses penyembuhan penyakit adalah obat dengan dosis ringan. Namun karena penyakit terus membandel maka mau tidak mau dosis obat harus ditambah, dan apabila semakin membandel maka tidak ada jalan lain harus dilakukan tindakan pengobatan yang ekstrim yang berupa "pukulan keras" akibat meninggalnya sang ayah.

Pertanyaan untuk Anda dan untuk saya sendiri tentunya, masih adakah perbuatan dosa dan tercela yang masih kita lakukan sampai saat ini? Masih adakah dosa-dosa yang kita belum bertobat dan minta pengampunan kepada Allah SWT? Sudahkah kita mencermati peringatan-peringatan kecil yang Allah SWT berikan atas perbuatan-perbuatan dosa dan tercela kita? Saya rasa momentum tahun baru 2010 ini adalah waktu yang tepat untuk menambahkan "insyaf dan bertobat dari segala macam perbuatan dosa dan tercela" ke dalam daftar resolusi kita untuk tahun 2010 ini, mumpung Allah masih menganggap bahwa "penyakit" kita masih bisa disembuhkan dengan memberikan "obat dosis ringan". Atau anda hendak menunggu dahulu sampai penyakit anda semakin kronis? Pilihan ada di tangan Anda.

Kamis, 03 Desember 2009

[Kuliner Semarangan] Si Bohai, Martabak Manis Thien Thien Lay

Semarang sebagai kota yang ditinggali oleh berbagai macam etnis seperti Jawa, Tionghoa, Arab, India, dan lain-lain sudah tentu memiliki berbagai macam budaya dan tak pelak lagi juga memiliki beraneka ragam kuliner. Kali ini saya akan membahas salah satu kuliner yang konon pertama kali diperkenalkan oleh etnis Tionghoa. Ya, etnis yang satu ini memang terkenal dengan kuliner-kulinernya yang unik dengan cita rasa yang mudah diterima oleh sebagian besar lidah Bangsa Indonesia. Nah kuliner yang akan saya bahas adalah martabak manis. Selamat menikmati.

Penganan berbentuk bundar yang satu ini punya banyak nama, ada yang menyebutnya dengan kue bandung, kue terang bulan, martabak manis, dan masih banyak lagi nama alias lainnya. Saya sendiri dari kecil mengenalnya sebagai martabak manis. Hampir di setiap kota baik besar maupun kecil pasti ada yang menjual penganan yang satu ini dan diantara sekian banyak penjual martabak manis di suatu kota pasti ada satu yang terbaik, best of the best. Kalau di Bogor ada Martabak Air Mancur, di Bandung ada Martabak Jepang, nah kalau di Semarang sang Kota Atlas yang pantas menyandang gelar best of the best martabak manis menurut saya adalah Martabak Thien Thien Lay.

AWAL PERKENALAN
Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2 menjelang kelas 3, sekitar tahun '94 - '95an. Salah seorang Paman dari pihak Ibu berkunjung ke Semarang, tujuannya apalagi kalau bukan disuruh Kakek untuk menjenguk putri-putri dan cucu-cucunya. Kali ini tidak seperti biasanya, paman saya ini sekalian mencari kawan lamanya di Pangkalpinang yang konon telah lama hijrah ke Semarang.

Diantar oleh saya dan ayah saya (sekarang sudah almarhum) kami bertiga mencari kawan lama Paman tersebut. Mulanya kami mencari di daerah Pudak Payung (daerah dekat perbatasan kota Semarang dengan kota Ungaran) setelah sampai di lokasi ternyata target sudah pindah rumah dan dari informasi yang didapat, kawan lama Paman saya tersebut berjualan martabak di jalan Gadjahmada. Tanpa membuang waktu kami pun langsung meluncur ke TKP.

Jalan Gadjahmada kala itu memang terkenal sebagai jalan dengan deretan pedagang kaki lima yang banyak di kota Semarang selain jalan Mataram. Uniknya lagi apabila di jalan Mataram sebagian besar pedagangnya berjualan loenpia, maka di jalan Gadjahmada ini mayoritas berjualan martabak manis.

Tidak seberapa jauh ke arah utara dari lapangan Pancasila (lebih dikenal dengan nama Simpang Lima) tampak di kiri kanan jalan sudah berjejer gerobak penjual martabak. Perlahan mobil yang kami tumpangi menyusuri jalan tersebut, sambil tengok kiri kanan Paman saya mencoba mengenali kalau-kalau salah satu pedagang martabak tersebut adalah kawan lama yang dicarinya. Namun sampai dengan jembatan Kampung Kali yang menjadi batas jajaran gerobak para pedagang martabak itu tetap saja sang kawan lama tidak ditemukan.

Mobil terus bergerak menyusuri jalan Gadjahmada hingga beberapa ratus meter dari jembatan Kampung Kali di depan gedung sebuah bank swasta kami melihat sebuah gerobak penjual martabak. Gerobak penjual martabak ini menyendiri jauh dari yang lain dan di papan namanya tertulis (kalau saya tidak salah ingat) "Kue Bangka, Thien Thien Lay" nama yang sangat Chinesse sekali. Mobil pun menepi mendekati gerobak tersebut dan ternyata tidak salah lagi itulah sang kawan lama yang dicari-cari.

Sekadar tambahan pengetahuan, sebagian besar pedagang martabak yang mampu membesarkan martabaknya menjadi best of the best adalah keturunan Cina dan uniknya lagi kebanyakan dari mereka berasal dari Bangka. Sebagai contoh adalah Bapak Kiki Sanjaya pemilik Martabak Air Mancur di Bogor juga adalah seorang puta Bangka keturunan Cina, sehingga tidak heran martabak manis selain disebut dengan kue Bandung dan terang bulan disebut juga dengan nama Kue Bangka.

MENGENAL THIEN THIEN LAY LEBIH DALAM
Thien Thien Lay, sampai sekarang pun saya belum tahu apa arti nama itu. Dan setiap kali hendak menanyakan arti kepada sang empunya selalu saja terlupa. Tapi apalah artinya sebuah nama, yang penting adalah karyanya. Meskipun begitu suatu saat nanti insyaallah akan saya tanyakan artinya, tentu saja kalau tidak terlupa. :)

Dinahkodai oleh Om Lim (itulah namanya menurut Ibu saya, sedangkan saya sendiri biasa memanggilnya dengan "Om" saja) sang kawan lama Paman saya tadi dengan dibantu oleh dua orang putranya, Thien Thien Lay telah bertahan hampir dua dekade (atau malah lebih ya). Konon Thien Thien Lay pada awalnya menggelar dagangannya di daerah tempat deretan pedagang kaki lima yang kami lewati sebelumnya, tapi karena didera persaingan dagang yang kurang sehat Om Lim memilih untuk hijrah ke depan gedung bank swasta tersebut.

Setelah pindah tempat pun nampaknya gangguan dalam berdagang masih saja setia menggelayuti Thien Thien Lay. Beberapa tahun menetap di depan gedung bank swasta tersebut, Thien Thien Lay dipaksa pindah oleh petugas kamtib. Thien Thien Lay pun berpindah-pindah tempat usaha hingga akhirnya sekarang menetap di sebelah utara Ruko Gadjahmada Building. Tepatnya di
Jl. Moch Suyudi.

Untuk mencapai Jl. Moch Suyudi sangat mudah, dari Simpang Lima menuju ke jalan Gadjahmada melewati perempatan Kampung Kali terus ke utara lagi. Terus jalan sampai Anda menemukan lampu merah perempatan yang agak aneh, bentuknya lebih mirip dua pertigaan dengan jarak yang berdekatan, pertigaan pertama dengan belokan ke timur & pertigaan kedua dengan belokan ke barat. Setelah melewati lampu merah di kiri jalan ada ruka Gadjahmada Building dan di kanan jalan sedikit di depan anda ada Hotel Telomoyo. Setelah Ruko Gadjahmada Building ada jalan ke kiri, berbeloklah di jalan tersebut kemudian maju beberapa meter dan tengoklah di kanan jalan. Nah disitulah Thien Thien Lay sekarang menggelar dagangannya.


Dari berjualan martabak ini Om Lim telah berhasil mengentaskan putra putrinya dari bangku kuliah dan memiliki sebuah kendaraan roda empat. Hasil yang diperolehnya itu merupakan sebuah bukti bahwa racikan resep martabak manisnya benar-benar dahsyat, sampai-sampai kedua putranya yang sarjana pun memutuskan untuk melanjutkan usaha sang ayah daripada bekerja sebagai pegawai kantoran. Sementara Si Om sekarang lebih banyak duduk-duduk mengawasi kedua putranya & beramah tamah dengan pelanggan setianya, sehingga setiap kali saya menyambangi warungnya sendirian ketika pesanan telah siap dibawa pulang dengan logat Bangka yang masih kental Om Lim selalu berujar "Titip salam ke Mama ya".

Salah seorang putra Om Lim sedang meracik topping martabak manis.

APA YANG ISTIMEWA DARI THIEN THIEN LAY?
Untuk beberapa waktu saya sekeluarga sempat rehat jajan martabak manis di Thien Thien Lay dan setelah rehat jajan beberapa waktu tersebut ternyata sekarang Om Lim sudah menambah jenis dagangannya. Dari yang dulunya cuma Martabak manis dengan varian biasa, keju, hitam manis, wijen, dan spesial serta berbagai macam pukis kini ada juga martabak manis kismis dengan berbagai variannya. Nah, bagi Anda yang suka ngemil kulit
pinggiran martabak manis yang renyah kriuk kriuk kini anda pun bisa membeli kulitnya saja.


Adonan martabak manis biasa dan martabak manis kismis sedang dipanggang.

Yang istimewa dari martabak manis Thien Thien Lay dibanding dengan martabak manis lain adalah kalau pada martabak manis lain setelah lewat sehari biasanya martabak akan menjadi kering & lebih keras dari pada saat baru saja diracik, beda dengan martabak manis racikan Thien Thien Lay. Martabak manis Thien Thien Lay masih terasa lembut & moist itupun sudah saya masukan ke dalam lemari es semalaman. Selain itu racikan toppingnya pun tidak pelit, campuran meses, margarin, kacang sangrai, susu kental manis, dan keju (apabila Anda membeli yang keju tentunya) yang di-mix saat martabak masih kebul kebul fresh for
m the pan nge-blend menghasilkan komposisi rasa yang ciamik. Dari segi kuantitas toppingnya pun lebih banyak dibanding martabak manis racikan pedagang lainnya namun tetap pas, tidak berlebihan. Body si martabak manis yang bohai binti bahenol ini memang diatas rata-rata, sehingga si martabak manis harus dikemas ke dalam dua buah kotak. Wajar saja jika dibanderol dengan harga premium, yang termurah, martabak manis polos harus ditebus seharga Rp 26.000 per loyang, pukis dihargai Rp 2.000 per biji dan bagi Anda yang menggemari kulit pinggiran martabak yang renyah bisa membawanya pulang dengan harga Rp 12.000 per bungkus.


Daftar harga yang belum berubah sejak 2008.

Nah kalau kebanyakan makan martabak manis biasanya akan terasa eneg, apalagi martabak manisnya punya topping yang tebal. Di Thien Thien Lay ini ada martabak m
anis yang tidak terlalu eneg untuk dimakan dalam porsi berlebih, kecuali Anda sudah makan hampir tiga loyang. Hehehe... Ini merupakan varian terbaru martabak manis Thien Thien Lay, namanya martabak kismis. Martabak ini juga tersedia dalam mode polos, biasa, keju, hitam manis keju, hitam manis biasa, istimewa & spesial. Cuma saya belum ngeh apa bedanya antara yang spesial & istimewa. Martabak kismis ini sebenarnya adalah martabak biasa yang ditaburi kismis sesaat setelah adonan dituang ke loyang, kemudian setelah matang diberi topping seperti biasa. Nah kismis inilah yang memberi efek mengurangi rasa eneg.


Ini dia si martabak kismis yang sedang diberi topping.

Bagaimana? Sudah ngiler kah Anda? Daripada berlama-lama ngiler dan penasaran mendingan buruan sambangi deh Thien Thien Lay yang menggelar dagangannya dari pukul 5 sore sampai habis (biasanya sekitar pukul 10 malam). Oh iya Thien Thien Lay tidak membuka cabang di tempat lain lho, jadi yang di Jl. Moch Suyudi ini adalah the only one. Selamat menikmati dan saya tidak tanggung bila suatu saat Anda kangen menikmatinya lagi, karena memang motto dari Thien Thien Lay adalah "Sekali dicoba tetap disuka".